Sabtu, 07 Juli 2012

Cerbung - Legenda di Bulungan

written by : F.A. Triatmoko H.S.


Semasa utas, kami mendengar beberapa kisah legendaris angkatan-angkatan sebelumnya. Ada angkatan yang berjalan menuju terminal blok m dan membuat semua anak STM yang sedang nongkrong segera kabur. Ada juga angkatan yang katanya pernah menyerang STM Penerbangan, atau STM kapal, mencopot miniatur pesawat yang dipajang di depan sekolahnya, lalu menarik-narik pesawat tersebut di jalan raya. Cadas!

Namun yang paling santer adalah legenda tentang angkatan Ekstrimis. Katanya, angkatan Ekstrimis yang saat itu menjadi aud, tubir dengan angkatan Rezim yang sudah menjadi agit. Tubirnya pun tak tanggung-tanggung. Kedua angkatan yang dipisahkan oleh lantai 1 dan 2, saling serang menggunakan kursi atau meja. Timpuk sana timpuk sini. Kaca pecah disini, kaca pecah disana. Hingga akhirnya, banyak peserta acara lempar-lempar itu yang kemudian diliburkan selama 10 hari. Kejadian ini yang kemudian dinamakan sebagai kudeta. Kejadian ini pulalah yang menjadi semangat bagi angkatan kami untuk meniru hal yang sama pula nantinya.

Lalu, ketika menjadi agit, Ekstrimis tersebut melantik utasnya dengan cara yang "sedikit berisiko". Utas-utas tersebut, yang kemudian bernama Platoon, dinaikkan ke bus, lalu diturunkan di depan kapal. Namun tak hanya berhenti di situ. Setelah utas turun dari bus, agitnya segera berteriak, "TUJUH PULUH!!"

Selanjutnya, Aku tak tahu kabar kelanjutannya kejadian itu.

Aku khususnya, mendapatkan imej bahwa Ekstrimisi adalah sebuah angkatan yang ganas, agresifitas tinggi dan tentunya legendaris.

--

Setelah kami lulus ternyata ada beberapa kisah yang melegenda tentang angkatan kami. Aku secara tak sengaja mendapatkan informasinya dari seorang alumni 70 angkatan 2006, yang saat ini berkuliah di FKG UI. Katanya melalui situs Friendster:

wUUuahhh... kaK moKO tRAbaL?? dUh kaK, maSA waKtu iTu gLittEr mo datEng ke LamaNdaU.. uNtunG gaK jadi, HAhaha^^ kLo jaDi paSti anaK" paDa beDarah deH tanGannya disiLet...

Lalu,

haLah sY kaKak.. tRabaL kaNt seREm bangeT,, masIh tradisi Lama yaNg haRus menYUsahkaN uTas, HAhhhahhAHh^^

Begitu Aku mendengarnya, Aku terkaget-kaget, karena ada legenda silet-menyilet itu.

Lalu suatu ketika saat Aku sedang membahas kisah SMA dengan beberapa juniorku alumni 70, kutemukan informasi baru. Seorang temanku bercerita bagaimana beberapa anak Glitter melabrak anak Crayon (angkatan cewek 2002) lalu memarahinya. Informasi pertama yang kudapat darinya: saat itu, konon oknum Glitter tersebut membawa cutter. Lalu informasi kedua: seorang gadis Crayon terluka tangannya.

Setelah itu, Aku dengar kisah yang (kurang lebih) sama dari temanku yang satu lagi. Kabar yang berhembus adalah: seorang kewec Glitter pernah melukai Crayon menggunakan sebilah cutter.

Hmmmm.

Sepertinya legenda silet menyilet itu berasal dari kejadian yang dialami temanku di atas.

Lain lagi dengan cerita silet-silet itu, dengan informasi yang kudapat dari sebuah forum. Cerita yang kudapat, angkatan kami adalah angkatan yang "psycho" dan juga parah; entah apa maksudnya itu. Aku menduga karena kejadian silet-menyilet itu juga (selain karena angkatan kami memang suka tubir).
kalo angkatan yg paling parah tuh apa ?

kyk nya trabalista yah anak2 nya pinter tapi psyco semua
tawurannya juga masih kenceng

Setau gw sih juga yang dulu" tuh yg parah...Kayak Rezim...Ekstrimis...GAB.....yang jebot" deh...Tapi kalo yang ank 2000-an yg paling ekstrim sih Trabal...


Lucu ya? Bagaimana sebuah cerita bisa berkembang sebegitu luasnya, setelah jatuh ke banyak telinga, kemudian bisa berkembang menjadi sebuah legenda yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Cerbung - Ganjil vs Genap

written by : F.A. Triatmoko H.S.

Tiap angkatan di 70 memiliki nama, mulai dari yang pertama, hingga angkatanku. Dampak dari pemberian nama ini adalah adanya semacam kompetisi agar nama angkatannyalah yang paling "harum". Keharuman ini biasa dicium dari prestasinya, baik itu prestasi positif maupun negatif. Prestasi positifnya misalnya, NEM tertinggi, juara ini, mendapat penghargaan itu, dsb. Nah, prestasi negatifnya misalnya angkatan paling jagoan, paling sering tubir, paling sering menang tubir atau angkatan yang berani melawan kakak kelasnya. Poin terakhir inilah yang diindoktrinasi oleh agit kepada kami yang nantinya akan berbuntut panjang bagi angkatan kami, dan secara umum pada 70.

Ketika Aku masuk 70, angkatanku adalah angkatan ke-17, sedangkan Zapa (sebutan untuk agit Zapatista), angkatan 15. Zapa selalu menekankan pada kami,
"Angkatan ganjil itu paling jaya di 70! Angkatan genap tuh katro-katro! Jangan takut sama angkatan genap!"
Karena itu kami pun jadi lebih berani pada aud, Somoza. Apalagi kepada angkatan berikutnya.

Setelah diberi "penataran" tersebut, kami lalu diminta berkeliling di lantai 3 dan 2 gedung sekolah.

Sekolahku, yang Aku baru tahu ukurannya sangat besar setelah pendaftaran ulang, terdiri dari 3 buah gedung. Gedung pertama, jika dilihat dari atas, berbentuk huruf H, namun dengan 2 buah garis horizontal di dekat ujung atas dan bawahnya. Gedung ini adalah gedung utama 70. Lantai 1 berisi ruang guru, perpustakaan, ruang OSIS, dsb. Lantai 2 diisi oleh aud dan seluruh agit. Lantai 3 diisi oleh kami dan sebagian aud.

Gedung kedua adalah gedung berbentuk huruf L, yang sebagian besar tak berpenghuni dan hanya berisi laboratorium. Gedung ketiga ada di tengah kedua gedung tadi, dan berfungsi sebagai ruang piket.

Kembali ke "penataran" tadi, kami lalu diminta untuk berkeliling di lantai 3 dan 2, untuk melewati kelas aud. Kami pun (kalau tidak salah) diinstruksikan oleh agit untuk menggedor pintu kelas tersebut.

Selama berlangsungnya "long march" ini, kegaduhan pun terjadi. Mulai dari siswa-siswa lain yang bingung melihat apa yang sedang terjadi, aud yang menatapi kami dengan tajam, teriakan-teriakan tidak jelas yang mulai terdengar, hingga munculnya suara tangan-tangan menghantam pintu kelas.

Dari ujung ke ujung kami berjalan beiringan, lalu turun dari lantai 3 ke lantai 2. Satu per satu kelas aud kami lewati. Jika berani, kami gedor-gedor pintunya. Jika tidak, ikuti saja aliran utas yang ada di depan dan menganggap kegiatan ini sebagai prosesi baris-berbaris saja.

Tak ada satupun guru yang mengawasi ketika itu. Justru agit yang terlihat duduk-duduk mengawasi kami dari kejauhan. Kami lebih takut pada mereka daripada kepada guru, walau guru bisa menentukan kelulusan dan mereka tidak.

Setelah seluruh kelas 2 selesai disisir, kami pun naik lagi ke lantai 3 dan diperbolehkan masuk ke kelas masing-masing. Kegaduhan pun mulai surut dan sejenak bisa menurunkan ketegangan yang sempat kami alami.

Sejak saat itulah, bumbu-bumbu perseteruan kami dengan Somoza (yang namanya diplesetkan oleh Zapa menjadi somay) mulai muncul, yang nantinya akan memuncak saat kami menjadi aud.

Cerbung - Bablast 614

written by : F.A. Triatmoko H.S.

Ingat dengan senior yang menanyakan basisku? Kali ini Aku tidak bercerita tentangnya lagi, melainkan tentang basisku itu.

Ini dia.

Sejak SMP, Aku telah berencana: jika masuk 70 akan naik kopaja 616, jurusan Cipedak-Blok M. Namun, seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, Aku baru sadar bahwa bus ini melewati sebuah sekolah yang ternyata seringkali terlibat pertengkaran dengan 70. Namanya STM Penerbangan. Dan akan berbahaya jika suatu saat Aku kepergok menaiki bus itu oleh mereka. Tak tahu jadi apa Aku ini kalau hal itu terjadi. Karena alasan keamanan tersebut, Aku memutuskan berganti bus saja.

Aku beralih dari menunggu bus di terminal blok m, menjadi di kolam renang Bulungan. Di halte kolam renang itu, Aku menunggu bus kopaja 614, jurusan Cipulir Ps. Minggu. Dan bus ini terbukti relatif aman, karena hanya melewati sekolah-sekolah yang tak begitu berbahaya, seperti Dharma Karya (Dhakar), YPK, Tunas Pembangunan dan Gonzaga.

Lama-kelamaan, banyak juga anak Trabal (kependekan dari Trabalista) dari kawasan Selatan, yang naik bus ini. Satu per satu mulai berkenalan denganku, dan jadi sering pulang bersama-sama. Kamipun akhirnya menjadi satu basis utuh, dan bisa dibilang salah satu basis paling rajin naik bus selama 3 tahun sekolah.

Seiring perjalanan waktu, kami merasa peru memberi nama basis kami itu, sebab anak Trabal yang lain juga punya nama basis; ada AC Milan 69, CUS 610, Badai 611 dan Sabit 75 (basis 74, Aku lupa namanya). Entah muncul ide dari siapa, nama Bablast pun muncul; kependekan dari BAsis enam empat BeLas dengan tambahan huruf T. Nama itu pun segera makin tenar, apalagi setelah muncul media publikasi yang sangat efektif berupa sebuah band dengan nama yang sama.

Siapa saja personil basis ini? Langsung saja kuperkenalkan mereka satu per satu (anak-anak Ciganjur termasuk juga):

Geri Anggoro
Rumah: Sekitar pasar minggu.
Panggilan: Geri, Ger
Hobi: memandang rendah orang lain (karena badannya yang tinggi) dan membicarakan mangga arummanis.
Prestasi: menjadi bassis Bablast band yang ngetop seantero Trabal itu.

Samiaji Adisasmito
Rumah: belakang SMA 28
Panggilan: Baba, item, cebol
Hobi: Mencari kewec yang kitnac-kitnac, tapi jarang berhasil dapat. Hobi lainnya adalah mencela sekaligus dicela orang lain.
Prestasi: Selamat dari pertempuran, dimana Bablast menjadi aktor utamanya, dan Baba menjadi korban pemukulan bambu lawan. Gitaris Bablast band.

Wiji
Rumah: Arteri Pangeran Antasari.
Panggilan: Wiji
Hobi: belajar, beribadah.
Prestasi: menjadi ketua rohis angkatan kami.

Ricky
Rumah: Jl. Joe
Panggilan: Ricky, Ky
Hobi: membasahi kemejanya dengan main bola lalu memerasnya dan kemudian memakainya kembali (dan itu bisa terjadi beberapa kali dalam sehari) dan mengompori jika ada yang ulang tahun sehingga orang itu mau mentraktir yang lainnya dengan membeli ayam gorengan yang dijual di pinggir-pinggir jalan.
Prestasi: Menjadi salah satu gelandang bertahan yang disegani di angkatan. Kinerjanya di lanpangan seringkali disetarakan dengan Gennaro Gattuso, gelandang AC Milan.

Erlangga
Rumah: Sekitar Jatipadang.
Panggilan: Erlangga, Erlay, Elay
Hobi: Mengutak atik vespanya.
Prestasi: Menakut-nakuti anak SMA dengan perban super besar di daerah pelipisnya. Anak-anak itu pasti mengira luka di balik perban itu adalah luka bacokan.

Evren Gilbert
Panggilan: Evren
Rumah: Mampang
Hobi: Main game, les bahasa inggris di LIA
Prestasi: Disukai oleh banyak wanita dengan fans yang paling ekstrim adlah aud yang ada di kelas seberang kelas 1 a; mereka pernah berteriak memanggil Evren dari seberang kelas.

Ada juga beberapa anggota yang tidak aktif nge-basis dan anggota kehormatan:

Hariysah Luthfi
Panggilan: Empi
Rumah: Sekitar Jatipadang
Hobi: Bermain bola.
Prestasi: menjadi petinggi Bulungan Football Club.

Ito Andhika
Panggilan: Ito
Rumah: Cipete ya?
Hobi: Bermain basket.
Prestasi: menjadi pemain basket dengan tinggi badan alakadarnya.

Binsar Rocky
Panggilan: Binsar
Rumah: komplek Akri
Hobi: main PS, menyediakan kamarnya untuk kami bermain PS, memberi tebengan.
Prestasi: mengenalkan supirnya yang berasal dari Arab dan gokil itu kepada kami.

Riyan Prabowo
Panggilan: Riyan, Chow Yun Fat (cowok cipayung keparat)
Rumah: Cipayung, jaktim
Hobi: main bola, nge-band, memandangi gadis-gadis, nonton film pekob yang dibintangi anak-anak di bawah umur, menjadi drummer Bablast band, dan menyediakan rumahnya untuk latihan band.
Prestasi: Dikirim mengikuti kejuaraan Puma Street ball, waktu kecil berwajah mirip Joshua, menyerempetkan mobilnya saat pertama kali membawa mobil sendiri dan menebengi kami.

Selain pria, ada juga beberapa perempuan penunggang s 614 ini (secara sepihak dalam notes ini, Aku menyebutnya Bablast-wati):

Theresia Sekarwulan
Panggilan: Tia, Ti
Rumah: Mangga besar ps. minggu
Hobi: Gonta-ganti pacar, tubac waktu jam pengayaan.
Prestasi: SDA.

Tri Arini Melati
Panggilan: Mela, Mel
Rumah: Kawasan Pasar Minggu
Hobi: Bersama Tia mengajakku tubac ke blok m plaza.
Prestasi: Mel, tak tahu nih.

Putri Meilani
Panggilan: Putri, Ilan
Rumah: Arteri Antasari
Hobi: main piano, membaca
Prestasi: handal dalam bermain piano dan menulis puisi.

*Nah, kiranya sudah semua tersebutkan. Jika ada yang terlewatkan, mohon segera beritahu.

Kami, selain beraktifitas pulang bersama, mendapati banyak pengalaman lainnya. Apa saja?

Tunggu saja penampilannya!

Cerbung - Selamat Datang Trabalista Glitter

written by : F.A. Triatmoko H.S.


Garnizoon 70 (kulihat tulisan ini salah satu tembok rumah di daerah Wijaya, Kebayoran baru). Somoza 70 (kulihat di tembok rumah di daerah Senopati). Zapatista 70 (kulihat tertulis di atas kata Kapal, di sebuah tembok daerah Pasar Minggu). Platoon 70 (kulihat di sebuah tembok rumah di daerah Ciganjur)

Awalnya kupikir itu semua adalah nama keren dari 70. Lalu, siswa yang baru masuk, boleh memilih sesukanya. Namun ternyata pemikiranku salah. Nama-nama tersebut adalah nama tiap angkatan di 70.

Saat Aku menjadi utas, agitku bernama Zapatista dan audku bernama Somoza. Ketika baru masuk, angkatanku tentunya belum punya nama. Karena itu, kami seperti dibebankan sebuah tugas untuk memiliki nama angkatan. Beberapa alternatif nama sempat muncul di kalangan kami. Namun, Aku sangat tidak ingat nama-nama tersebut (tolong bantu Aku mengingatnya!).

Jika nama angkatan sudah ditemukan, pasti harus lebih dulu dideklarasikan atau diresmikan. Oleh karena itu, diadakannya sebuah kegiatan "pelantikan". Pada zaman itu, belum disebut sebagai nakitnalep. Dan kala itu, agit kami tak memberitahukan bahwa akan ada kegiatan itu.

Lalu pada suatu siang, kami mendengar kabar bahwa seluruh utas cowok, diminta untuk berkumpul. Seperti biasa, Aku dan beberapa teman di kelas merasa deg-degan kalau sudah berurusan dengan agit. Ujung-ujungnya kalau tidak dikerjai, ya kena tampar. Inginnya kami kabur saja!

Betapa kebetulan! Siang itu Aku dan beberapa anak kelas kami berencana nge-band. Segera setelah pulang, kami segera bergegas menuju mobil salah seorang teman, lalu beranjak ke sebuah studio band di Bintaro.

Keesokan harinya, seorang teman berkeluh kesah padaku sembari menyampaikan sebuah kabar baik. Kabar baiknya, angkatan kami sudah memiliki nama: Trabalista. Hmm, nama yang cukup keren. Nah, habar buruknya, dia menyampaikan berita itu seraya mengutarakan kesebalannya dan meratapi wajahnya yang kena tampar oleh agit (entah ada perlakuan yang lain lagi atau tidak).

Secara resmi, angkatan ke-17 dari SMA 70, dinamai Trabalista pada 18 September 1998!

Nama Trabalista sendiri diambil dari nama sebuah partai di Timor Timur. Namun ketika sudah sampai di tangan kami, menjadi sebuah akronim dari: TentaRA BuLungan antI STm jakarTA. Agak memaksakan, namun cukup pas didengar. Trabalista pun disingkat lagi menjadi TRB atau Trabal. Dan untuk melengkapinya, Glitter pun dicetuskan sebagai nama angkatan ceweknya (Aku belum yakin dengan singkatan dan tanggal kemunculan Glitter ini).

Sejak saat itu, kami lebih dikenal sebagai Trabalista 70

Cerbung - Ciganjur, Dekat Rumah Gusdur?

written by : F.A. Triatmoko H.S.

Di sekolah baru, selain belajar bahasa indonesia dengan pengucapan yang baru, Aku juga mendapatkan teman baru. Tapi bukan teman sembarang teman, melainkan teman sekampung
: Ciganjur.

Tadinya kupikir Aku akan sendirian mengarungi jalanan antara Ciganjur-Bulungan, namun dugaanku salah. Aku menemukan beberapa anak 70 yang juga tinggal di kawasan Ciganjur (dan sekitarnya). Mereka adalah Eva, Sitta, DJ, Hasan dan Ridho. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Eva Hafsah
Panggilan: Eva
Prestasi: anggota TLUP (bisa disebut prestasi tidak ya? :D), menjadi Bablast-wati yang cukup rutin (kisah tentang Bablast akan segera menyusul) dan selebihnya kurang tahu lagi.
Sejarah pertemuan: Aku kenal dengan Eva karena sakit. Benar, karena sakit gejala tifus. Aku dan keluargaku memiliki dokter langganan jika sedang sakit, namanya dr.Asroruddin. Saat aku sedang mengalami gejala tifus, Aku bersama ibuku pun memeriksakan diri ke dr. Asro.

dr: Anak ini kenapa?
I: Sepertinya kecapean dok. Setiap hari sekolah, berangkat pagi dan pulangnya sore.
dr: memang sekolahnya dimana?
I: 70 Bulungan dok.
dr : Anak saya juga sekolah di situ. Kamu kenal, namanya Eva?
M: Hmm (teman satu kelasku ada yang bernama Eva, namun sepertinya bukan dia). kelas berapa dok?
dr : 1B.
M: Hmmm. nanti Aku cari deh dok.

Keesokannya, Aku mencari yang bernama Eva dan menemukannya, walau perlu beberapa kali berjumpa dulu sebelum bisa berkenalan.

Shita Amelia
Panggilan: Shita
Prestasi: menjadi Bablast-wati yang cukup rutin.
Sejarah pertemuan: Maaf Sitta, Aku lupa :D

Dwijaya Kusuma
Panggilan: DJ, Dwi
Prestasi: ketua eksul band, salah satu virtuoso gitar di 70, tertidur dengan sangat cepat di segala kondisi dan tempat dan membuat jiper beberapa anak STM karena tak terluka sama sekali ketika seorang anak STM menyabet tangannya dengan golok.
Sejarah pertemuan: Aku bertemu dengannya di angkot m.20, jurusan Ciganjur-Ps. Minggu (angkot kebanggan warga Ciganjur). Beberapa kali, sebelum akhirnya berkenalan dengannya, Aku sempat bersamanya dalam 1 angkot yang sama. Namun karena masih malu-malu mau, akhirnya baru setelah beberapa kali bareng, Akupun bisa berkenalan dengannya.

Hasan Alhabsyi (menurut facebook)
Panggilan: Hasan, Arab, Bara, Onta, Rocker.
Prestasi: Menjadi frontman sebuah band beraliran cadas yang terkenal di angkatan kami dan gelandang dengan prospek cerah.
Sejarah pertemuan: San, ingat tidak? aku lupa :D

Ridho Akhiro
Panggilan: Ridho, Odir, basis handal.
Prestasi: Menjadi tebengan setia bagi DJ dan Hasan selama kurang lebih 3 tahun, menjadi basis di salah satu band beraliran Metallica, secara sepihak diangkat menjadi geng Ciganjur padahal rumahnya di daerah Cinere Gandul, menjadi penonton film pek-pek-cu (pekob pekob lucu) dan satu-satunya diantara pria Ciganjur yang berhasil berpacaran saat SMA.
Sejarah pertemuan: Ah, lupa juga Do :D

Kelima anak 70 inilah yang seringkali kutemui di kawasan Ciganjur dan sekitarnya. Walau kini intensitasnya sudah berkurang, karena kesibukan kerja masing-masing, namun Aku senang sekali pernah diberi kesempatan bertemu dan berkawan dengan mereka :).

Namun ada hal yang membuat Aku sebal dengan Ciganjur:
Orang bertanya: Rumah lo dimana?
Moko: Ciganjur.
OB: Dekat rumah Gusdur dong?
M: *dengan muka malas* Iya, hanya beda beberapa gang saja. (tentunya beda dengan DJ yang rumahnya hanya berjarak sekedipan mata dengan mantan orang nomor 1 di negeri ini).

Tapi tenang saja, jika kalian menanyakan hal yang sama, akan kujawab dengan jawaban yang sama pula.

Cerbung - Kilab-Kilab id Hujut Hulup

written by : F.A. Triatmoko H.S.

Selain budaya "jejer-jejeran", 70 juga memiliki budaya lain. Yang cukup terkenal adalah karena penggunaan asahab kilab. Hah, apa itu?

Coba dua kata itu dibalik cara membacanya.

Yak, bahasa balik. Kami, siswa-siswi 70 seringkali membalik bahasa-bahasa yang digunakan. Alasan yang paling mungkin pemakaian bahasa balik ini, (mungkin) selain karena trend, adalah untuk merahasiakan suatu pesan.

Kata balik pertama yang kuketahui adalah "utas"; berasal dari kata "satu", dan digunakan untuk menyebut siswa-siswi kelas satu. Kelas dua disebut sebagai "aud", dan kelas tiga sebagai "agit". Selanjutnya, Aku belajar banyak kata baru, seperti urug, autek, alig, rudit, alob, teksab, nakam, tubir, rotom, dsb.

Namun, menurut analisaku, tak semua kata bisa dibalik dengan sembarangan, contohnya adalah kata pulang. Pulang tidak bisa dibalik menjadi gnalup, namun menjadi ngalup. NG dalam kata pulang, tetap dibaca NG dalam kata gnalup. Selain itu, kata-kata yang berakhiran J atau C, juga tidak bisa dibaca sembarangan. Kata jejer dan cabut, tidak bisa dibaca sebagai rejej atau tubac, namun dibaca sebagai rejes dan tubas. Atau kata cowok dan cewek, dibaca sebagai kowos dan kewes.

Awal-awalnya, Aku merasa kesulitan dalam mempraktikkan bahasa itu. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali Aku mencoba menggunakannya. Lama-lama, lidahku pun telah terbiasa dengan bahasa balik tersebut.

Nayamul, tawel asahab kilab ini, Uka idaj ratnip malad naupmamek kitsiungil. Itap, malam ini, Uka tilus ilakes silunem seton ini, anerak hadus amal kadit kitkarp, nad amuc asib silunem tikides tamilak.

Cerbung- Anak Gaul Naik Bus?

written by : F.A. Triatmoko H.S.


Beberapa hari awal bersekolah di 70, telah kulalui. Namun itu belum seberapa. Banyak hal ajaib lainnya yang akan segera kualami. Salah satunya adalah mengalami budaya SMA ini.

Salah satu budaya tersebut adalah "menjejer" siswa kelas 1. Menjejer itu merujuk pada proses pengumpulan siswa kelas 1 oleh siswa kelas 3, dimana senior-senior tersebut akan melakukan apa yang mereka mau kepada juniornya.

Pagi itu, Aku dan teman seangkatanku, yang semua kelasnya ada di lantai 3, dikunjungi oleh beberapa senior. Mereka meminta kami untuk keluar kelas dan jongkok di depan kelas, bersebelah-sebelahan dengan teman lain. Tentu saja, kami belum saling kenal. Karena itu, senior tersebut meminta kami untuk berkenalan.

Kusalami beberapa teman di sampingku, kuberitahukan namaku dan mereka membalas dengan memberitahukan nama mereka. Tapi, seperinya tak banyak nama yang kuingat waktu itu, kecuali teman-teman sekelasku.

Setelah itu, seorang senior mendatangi kami semua.

Dari ujung sana, dia terlihat bertanya pada setiap siswa kelas satu, setelah itu menamparnya. Setelah dia sudah dekat, Aku baru tahu kalau dia menanyakan bus apa yang digunakan untuk berangkat dan pulang sekolah. Dia menyebutnya dengan kata "basis".

"Basis lo apa?" tanyanya.
Ada yang menjawab bis nomor sekian, sekian dan sekian.
Saat aku mendapat giliran, kujawab saja,"19 (bis kopaja p.19, jurusan Tanah Abang - Ragunan)". Lalu, PLAK! Ditamparnya Aku.

Di deretanku, terdapat seorang siswa baru; berbadan gemuk dan berkulit putih. Ketika sang senior bertanya padanya, ia menjawab dengan menyebutkan sebuah nomor bus. Namun senior itu bertanya lagi,"rumah lo dimana?"
"Tebet," jawab anak itu.
PLAK PLAK PLAK!
"Bo'ong lo!" teriak senior itu.
Ternyata nomor bus yang diberitahukan itu tidak menuju ke Tebet.
Aku sedikit takut dengan kejadian itu, namun tetap masih bisa tenang.

Tapi ada yang aneh dari seluruh kejadian ini, yaitu senior yang "bertugas" pagi itu. Kalau kulihat dari perawakannya:
1. Kulihat dari bawah. Dia menggunakan sepatu basket yang sepertinya berharga mahal. Jika dia rajin naik bus, sepatu seperti itu pasti sudah raib ditelan tukang palak (pemeras).
2. Dia menggunakan celana yang agak longgar. Pada jaman itu, "siswa-siswa penjahat" menggunakan celana ala 70-80an, yang kecil di pinggang namun membesar di bagian bawahnya (cutbray, istilah kerennya).
3. Agak ke atas, kulihat bajunya. Ia mengenakan baju yang kekecilan; lebih dikenal dengan baju jungkies. Saat itu, baju seperti itu adalah lambang dari kegaulan. Tak mungkin bagiku, anak gaul seperti itu sering naik bis.
4. Kulitnya. Senior itu berkulit putih. Wah, setiap hari pasti kena sinar matahari saat naik bus!
5. Rambutnya pendek sekali, hampir botak, hampir seperti gaya-gaya anak basket.

Aku mengambil kesimpulan bahwa dia adalah tipikil anak gaul zaman itu, dan bukan yang berangkat dan pulang naik bis. Lalu mengapa dia harus bertanya-tanya tentang bus apa yang kami naiki, kalau dia sendiri tak terlihat sebagai orang yang setia naik bus?